Oleh : Muhammad Asri
Mahasiswa Magister Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Maju (UIMA)
Dalam upaya perlindungan kesehatan publik, Pemerintah telah menetapkan Peraturan Pemerintah Nomor 28/2024 tentang Kesehatan (PP Kesehatan), khususnya pada pengamanan bahan zat adiktif. Ketentuan dalam PP Kesehatan sebagai turunan UU No.17/2023 atau UU Kesehatan mengatur tentang pembatasan penjualan rokok eceran per batang, pembatasan iklan rokok, dan peringatan kesehatan pada iklan rokok. PP ini tidak hanya mengatur peredaran produk tembakau, tapi juga rokok elektronik, meningkatkan ukuran peringatan kesehatan bergambar pada bungkus rokok, hingga melarang penjualan rokok kepada orang berusia di bawah 21 tahun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kenaikan cukai rokok telah menjadi topik yang terus dibicarakan dan diperdebatkan. Menaikkan tarif cukai rokok, dengan tujuan mengurangi konsumsi tembakau sekaligus meningkatkan penerimaan negara. Kementerian Kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) mendukung kebijakan ini, dimana memandang bahwa cukai tinggi sebagai cara efektif untuk menekan jumlah perokok, khususnya pada kalangan muda.
Namun, apakah kenaikan harga rokok benar-benar efektif dalam menekan konsumsi? Ataukah justru hanya menjadi beban ekonomi bagi masyarakat tanpa dampak nyata terhadap kesehatan?
Menurut data dari Kementerian Keuangan, sejak 2020, pemerintah secara bertahap menaikkan cukai hasil tembakau (CHT) sekitar 12-14 persen setiap tahunnya, dengan alasan untuk mendukung program kesehatan dan mengurangi konsumsi. Tahun 2023 saja, kenaikan cukai mencapai 10 persen, sehingga harga rata-rata sebungkus rokok kini berada di kisaran Rp 35.000 hingga Rp 40.000 untuk rokok kretek mesin (sigaret kretek mesin/SKM) dan sigaret putih mesin (SPM).
Kenaikan harga ini secara langsung mempengaruhi daya beli masyarakat, terutama pada kelompok ekonomi menengah ke bawah yang cenderung menjadi konsumen utama produk tembakau. Namun, meskipun harga rokok naik, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan bahwa prevalensi perokok di Indonesia tetap tinggi. Tahun 2018, sekitar 33,8 persen penduduk Indonesia adalah perokok aktif, dan pada tahun 2021, angka ini hanya turun sedikit menjadi 33,4 persen. Ini menunjukkan bahwa meskipun harga rokok terus meningkat, dampaknya terhadap penurunan jumlah perokok masih belum signifikan. Beberapa faktor sosial dan budaya turut mempengaruhi pola konsumsi rokok di Indonesia.
Rokok telah menjadi bagian dari budaya masyarakat, terutama bagi kaum laki-laki, sehingga kenaikan harga saja tidak cukup untuk mengurangi kebiasaan merokok. Penelitian dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) mengungkapkan bahwa bagi banyak perokok, rokok dianggap sebagai kebutuhan pokok yang sulit ditinggalkan, meskipun harga terus meningkat. Akibatnya, beberapa perokok justru mengurangi pengeluaran untuk kebutuhan lainnya, seperti makanan atau pendidikan, demi tetap bisa membeli rokok.
Selain itu, prevalensi perokok usia muda terus meningkat. Berdasarkan data dari Global Youth Tobacco Survey (GYTS) 2022, sebanyak 19,2 persen remaja Indonesia (usia 13-15 tahun) telah mencoba merokok. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan kenaikan cukai belum sepenuhnya efektif dalam menekan angka perokok baru dari kalangan anak-anak dan remaja, yang seharusnya menjadi fokus utama dalam upaya pengendalian tembakau.
Di sisi lain, kenaikan cukai rokok memang memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara. Pada tahun 2023, penerimaan cukai dari tembakau diperkirakan mencapai Rp 200 triliun, yang digunakan sebagian besar untuk mendanai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Namun, beban kesehatan akibat rokok tetap tinggi. Data Kementerian Kesehatan, biaya perawatan untuk penyakit terkait rokok, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan stroke, mencapai sekitar Rp 70 triliun setiap tahunnya.
Ini berarti sebagian besar pendapatan dari cukai rokok hanya mengimbangi sebagian kecil dari biaya kesehatan yang harus ditanggung negara. Namun, penting dipahami bahwa kenaikan harga rokok saja tidak cukup efektif tanpa adanya program pendukung, seperti kampanye edukasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya merokok.
Negara-negara maju seperti Singapura dan Australia, telah membuktikan bahwa kombinasi antara cukai tinggi, aturan ketat, serta kampanye anti-rokok yang kuat efektif dalam menekan jumlah perokok secara signifikan.
Dari gambaran di atas, bahwa menaikkan cukai rokok memang berdampak pada peningkatan harga, namun dampaknya terhadap penurunan jumlah perokok masih minim, terutama di kalangan ekonomi rendah dan anak muda. Solusi yang lebih komprehensif diperlukan untuk benar-benar mencapai target kesehatan masyarakat.
Selain cukai tinggi, perlu adanya upaya lain, seperti pengaturan ketat terkait pemasaran dan distribusi produk rokok, serta edukasi masyarakat mengenai risiko kesehatan jangka panjang.
Program edukasi dan pendidikan anti-rokok di sekolah, serta dukungan untuk layanan upaya berhenti merokok (UBM) di layanan kesehatan, bisa menjadi strategi pelengkap yang efektif. Pemerintah juga perlu mendorong penelitian dan pengembangan teknologi kesehatan untuk membantu perokok berhenti, seperti terapi penggantian nikotin (NRT) atau penggunaan produk tembakau alternatif yang lebih rendah risiko bagi mereka yang sulit berhenti total.
Kenaikan cukai rokok adalah langkah penting, namun langkah ini belum cukup kuat untuk menekan konsumsi tembakau secara signifikan. Pendekatan yang lebih luas diperlukan, dengan fokus pada edukasi, pengendalian akses, serta kampanye kesadaran publik yang terus-menerus. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif, bias terjadi perubahan dalam pola konsumsi rokok, sekaligus melindungi kesehatan masyarakat dalam jangka panjang. ***