Menelaah Prospek Ekonomi Malut Kedepan dan Hubungannya dengan Pilkada 2024 Menurut Mochtar Adam

Sofifi, Maluku Utara – Mesin-mesin produksi milik perusahaan industri dan pertmbangan terus menggelegar di seantero Jazirah Al Mulk, sebutan bagi Provinsi Maluku Utara.

Aliran uang bergerak dari tangan pemodal ke pekerja dari sektor tambang dan industri terus mengalir, memberi dampak pada struktur ekonomi Maluku Utara dalam tiga tahun terakhir.

Fundamental ekonomi Maluku Utara yang ditopang sektor pertanian sebelum tahun 2020 mengalami pergeseran sejak kebijakan nasional Hilirisasi Tambang ala Jokowi-Ma’ruf pada 1 Januari 2020.

BACA JUGA  Belum Setahun Diperbaiki, Jalan Nasional di Pulau Morotai Berlubang Lagi

Badan Pusat Statistik (BPS) per 4 November 2024, sektor industri menjadi pemain utama penyumbang pendapatan 32,91 persen, disusul Pertambangan dan pengalian 16,58 persen atau mencapai 49,49 persen. Sektor tambang yang menopang kegiatan industri telah menguasai separuh dari perekonomian Maluku Utara.

Ekonom Mochtar Adam menilai, struktur ekonomi Maluku Utara dipengaruhi oleh laju pertumbuhan ekonomi di sektor industri dan tambang dalam tiga tahun terakhir memberikan dampak pada sektor-sektor lain yang terus berlari walau kadang terseok-seok. Fenomena ini memberikan arah yang makin baik bagi perkembangan Maluku Utara.

BACA JUGA  Nelayan di Malut Penerima Bantuan Armada Tangkap Berpotensi Gigit Jari, DKP Belum Ajukan Dokumen Lelang

Pertumbuhan ekonomi 4,42 (y-onY) memberi sinyal ekonomi Maluku Utara telah mengalami puncak pertumbuhan dan berangsur-angsur akan mencari titik tumbuh baru yang stabil dan konstan, jika tidak di input oleh faktor-faktor produksi yang lain.

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah