Bau Itu Bernama Politik Busuk 

Oleh : Arbi Achmad Yono
(Pimpinan Redaksi Haliyora.id)

————

Mungkin kalimat yang menjadi topik di atas pantas dialamatkan kepada para politisi cacingan Negeri ini. Sabang hingga Merauke tak ada bedanya. Apalagi bandit-bandit politik terlebihnya di Maluku Utara yang sedang asyik-asyiknya menikmati jelang Pemilu 14 Februari 2024 Nanti.

Hanya secuil kalimat pendek dimuntahkan ke telinga-telinga bagi orang yang mendengarnya. Bagi yang terkesima, termanggu-manggu larut dalam balutan harapan kosong. Diumpamakan janji membangun jembatan di atas kali yang tak ada airnya, memang sungguh miris.

Ada pula membangun komitmen kepada sanak saudara, kaya raya, miskin jelata (jikalau, seandainya) sebagai modal menaklukan lawan politiknya. Bila itu politisi, beda lagi dengan birokrator yang konon katanya lebih sadis lagi dari pada politisi tulen. Jika politisi menawarkan harapan, birokrator tampil memberi jasa pelayanan yang super menjanjikan. Andaikata birokrator itu adalah seorang pejabat penting yang ikut pesta demokrasi, maka matilah bawahannya.

Kalau politisi memberi harapan, birokrat yang berkepentingan tak mau kalah. Apapun yang diinginkan pasti diberikan asalkan kepentingannya berjalan mulus tanpa memikirkan untung ruginya, maklum pemegang kuasa dan berduit. Rakyat yang menjadi penonton-pun terkecoh dalam lingkaran catur politik, entah apa yang dipikirkan para politisi dan birokrat itu hingga mengorbankan sepuluh hingga ratusan kertas bernilai hanya untuk mendapatkan berkali – kali lipat dari pengorbanannya, ”pikir mereka”.

Ehem…Ada pula birokrator yang mau coba-coba main petak umpet, ada lagi yang memasangkan jagoannya sebagai umpan layaknya judi-judian kursi dan masih banyak lagi akal licik para birokrat itu.

Jika simpatisan, sanak saudara, handai tolan dibuat linglung dengan tingkah politisi, lebih-lebih lagi para birokrat yang ikut berpolitik itu. Entah keluarganya, kaki tangannya dan apa saja yang dianggap memberinya untung andai turut meramaikan daftar pemilih di kertas coblos alhasil itu membuat anak buahnya mual-mual dan masuk angin, maklum sistem.

BACA JUGA  Proyek Swakelola Kediaman Gubernur Malut 'Takancing', Komisi III Bakal Turun Gunung

Ya…memang sudah mendarah daging di Negeri ini. Mungkin mereka tak mendengar lantunan lagu bang Iwan Fals ”asyik gak asyik” ataukah terlalu asik untuk menjadi hiburan sehingga rakyat yang lugu nan polos menjadi pion dan santapan empuk bagi si tikus ataupun kucing peliharaan. Atau pula sang kucing dan tikus saling berebut menjadi peluncur (loper atau menteri begitu istilah permainan catur) sehingga mendapat pujian dari tuannya.

Lain kucing dan tikus lain pula dukun kampung yang mau tak mau harus setia dan taat kepada birokrat yang katanya berpolitik itu walau menyakitkan. Yang menonton tertawa di pojok sana.

Diluar sana, anjing – anjing herder mulai berliur dan menjilati apapun yang dilewatinya tak penting apa isinya asalkan ”enak” dan menggiurkan pasti disikat. Sungguh bangsat anjing-anjing itu sampai-sampai kawanan rayap-pun terpontang-panting dibuatnya. Jangankan isi dagingnya tulang belulang pun tak disisakan kepada semut.

Jika intrik dan liciknya sistem politik di Negeri ini sudah ada sejak zamannya nenek moyang kita, apa kata hati kita. Masihkah kita percaya dengan sistem demokrasi yang tidak beradab itu? Pertanyaannya, bila demokrasi mengharuskan kita memilih, apakah kita berdiam diri saja dengan komitmen politik kita? Ataukah makna demokrasi kita terlalu lemah untuk menentukan siapa pilihan kita.

BACA JUGA  Gubernur Sherly di Persimpangan Kota dan Ibu Kota

Atau jangan-jangan komitmen politik itu miliknya si kucing, tikus, atau pula si anjing bangsat. Belajar dari pengalaman, jangan percaya mulut busuk politisi atau birokrat yang mengorbankan bahkan menggantungkan harapan kita di terali-terali bau amis demokrasi. Nilai demokrasi itu mahal bung, estetika politik itu renyah kawan. Jangan biarkan bandit-bandit itu membajak pilihanmu demi ini itu, atau menjadi budak jabatan atau pula makanan siap saji bagi si anjing- anjing herder.

Ingatlah bung, pilihanmu penentu jejak keberlangsungan Negeri ini esok dan kelak. Bagi yang mendengar, tersenyum pun tidak. Bagi yang melihat menyapa pun tidak, ini faktanya bila kita terlalu lemah bung. Terlalu dan sungguh lemah sampai-sampai pemberontakan hati kita yang begitu kuat begitu dahsyat itu juga masih enteng dimenangkan oleh si kucing dan tikus dengan sombongnya menyelipkan satu dua rupiah kedalam saku-saku kita kawan. Ataukah pikiran kita terlalu rakus untuk menerima ucapan manis si dukun desa hingga lezatnya nilai demokrasi kita lemparkan ke dalam kantong-kantong sampah.

Saya masih ingat, mungkin beberapa waktu silam, entah, sebuah take line di media jalanan bertuliskan ”Hitam Putih Negeri Ini Tergantung Pilihanmu,” namun saya sedikit menyindir bahwa itu tak berlaku buat si kucing, tikus, atau si herder, bahkan si dukun kampung.

Bila itu tak berlaku bagi tetek bengek kasta pembual maka apa salahnya jika itu diberlakukan buat kita bung, bagi kita kawan, karena Hitam Putih Negeri ini tergantung pilihan kita bung. Karena Hitam Putih Negeri ini tergantung pilihanmu, kawan. ***

chat_bubble_outline

Belum ada komentar disini

Jadilah yang pertama berkomentar disini!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru

Pilih Wilayah