Pangan Lokal dalam Cengkraman Industri Tambang

- Editor

Sabtu, 13 Januari 2024 - 14:49 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas Industri Pertambangan di bagian hulu: Dok Sahrul Jabidi

Aktivitas Industri Pertambangan di bagian hulu: Dok Sahrul Jabidi

Data Ketersediaan Pangan Lokal per Januari-November 2023 juga menunjukkan Kabupaten Halmahera Tengah, Kecamatan Weda Tengah  memiliki total lahan produksi ubi kayu 22,0 Ha, ubi jalar 8,0 Ha, 87,0 Ha,  pisang 167,3 Ha serta sagu 99,5 Ha dengan ketersediaan pangan lokal dengan jenis ubi kayu, 70,2 ton, ubi jalar 11,2 ton, jagung 197,6 ton, pisang 3.010,5 ton dan sagu 1.791,0 ton.

Kepala Dinas Pertanian Halmahera Tengah Yusmar Ohorella, menyebutkan produksi pangan lokal terutama pada desa yang berada di sekitar industri pertambangan mengalami penurunan. Alasannya banyak lahan warga yang dijual ke perusahaan.

“Masih banyak warga yang menjual tanah ke perusahaan, sehingga berdampak pada luasan lahan produksi. Bahkan dulunya Desa yang masih mengandalkan pertanian, tidak bisa bertahan ketika masuknya industri pertambangan,” kata Yusmar begitu dikonfirmasi, 27 November 2023.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kata Yusmar, Dinas Pertanian mencatat, ada tiga desa diantaranya Desa Woejerana, Desa Way Kobe dan Desa Kulo Jaya paling terdampak industri pertambangan dalam hal tanaman pangan lokal maupun dampak banjir.

Oleh karenanya itu, dalam rancangan Peraturan Daerah tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) terdapat 2.50 hektar lahan yang masih dipertahankan wilayah Kecamatan Weda Tengah terutama di Desa Kobe, Sawai Tepo, Woejerana, Waikop, dan Desa Kulo Jaya. Lahan ini diperuntukan tanaman padi seluas 100 hektar, sementara lahan cadangan seluas 150 hektar untuk tanaman lokal.

BACA JUGA  Asal Muasal PANCASILA

Yusmar bilang, ada dua desa yang sampai saat ini masih bertahan dengan pangan lokal yaitu Desa Kobe dan Desa Sawai Tepo Kecamatan Weda Tengah. Ini karena, dua desa tersebut jauh dari aktivitas industri pertambangan. Pangan lokal harus dipertahankan dengan intervensi dari Pemerintah, sebab produksi pangan lokal di daerah sekitar tambang mengalami penurunan.

“Apabila ada kolaborasi antara Pemda Halmahera Tengah dengan PT IWIP, agar duduk bersama untuk membahas sistem pertanian, dan itu tidak boleh diintervensi oleh pihak swasta. Kita juga punya rencana untuk memberikan bantuan kepada petani, tapi hanya berupa bibit sayur sayuran misalnya kangkung,” katanya.

Saat ini dinas setempat telah melakukan kerja sama dengan Fakultas Pertanian Universitas Khairun Ternate untuk menganalisa struktur tanah. Apabila tanah yang berada di Kulo Jaya itu tercemar akibat aktivitas tambang, maka disesuaikan dengan tanaman yang sangat cocok untuk bisa ditanam.

“Jadi saat ini yang sementara dilakukan oleh Fakultas Pertanian, jadi dalam waktu dekat mereka turun ke lapangan pengambilan data dan analisa struktur tanah,” ujar Yusmar.

Lahan Perkebunan Warga Desa Kulo Jaya Ditanami Pisang: Dok Sahrul Jabidi

Akademisi Fakultas Pertanian Universitas Khairun Idris Abdurrahman mengatakan, Luas lahan produktif ini tidak semuanya bisa dikerjakan oleh masyarakat. Ini dikarenakan modal usaha menjadi kendala, sehingga apabila ada perhatian penuh Pemerintah Daerah Halmahera Tengah dan itikad baik perusahaan, maka masalah pangan lokal bisa teratasi secara bertahap..

BACA JUGA  PANCASILA IDEOLOGI JALAN TENGAH

Ketika bukit atau hutan dirambah menjadi daerah tambang, maka kerusakan lingkungan sudah pasti terjadi. Di titik inilah yang aksi save land (perlindungan terhadap lahan) yang diharapkan untuk menekan perizinan semakin ugal-ugalan, karena  pemerintah  terlalu genit memberi Izin Usaha Pertambangan.

Idris mengaku, pernah melakukan penelitian dampak sedimentasi akibat aktivitas tambang di desa Way Kobe. Ada 15 titik sampel tanah dan 10 titik sampel air yang hingga saat ini masih dilakukan analisis laboratorium. Namun ada beberapa saluran primer air irigasi ada sedimentasi dari aktivitas tambang yang menyebabkan warna air berubah kuning kemerahan dan kecokelatan.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan selama dua hari, memang hanya terdapat sebagian masyarakat masih menanam pangan lokal dalam spot yang kecil, seperti ubi kayu dan ubi jalar. Begitu juga tidak terlihat adanya aktivitas padi sawah. 

“Kami tidak melihat adanya aktivitas padi sawah di beberapa lokasi Way Kobe. Kelompok tani yang kerjasama dengan PT IWIP melakukan aktivitas budidaya tanaman sayuran seperti timun, daun bawang,  bawang, chaisim, cabe rawit, tomat dan beberapa jenis sayuran lain,” pungkasnya.***

Berita Terkait

Demokrasi Semu dan Demokrasi Rasional
Demokrasi Idiot, Peta Jalan Baru Demokrasi Rasional (CAT)
Bau Itu Bernama Politik Busuk 
Dahsyatnya Sedekah Subuh
Ibu, Tokoh Sentral Dalam Keluarga
Bertahta di Pohon Khuldi
Perempuan Dalam Bayang-bayang Industri Pertambangan PT IWIP
Keadilan Sosial dalam Sila Kelima Pancasila
Berita ini 170 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:52 WIT

Tauhid Soleman Kembalikan Formulir Pendaftaran Balon Walikota Ternate ke Gerindra

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Rabu, 17 April 2024 - 17:00 WIT

Saksi Akui Terdakwa Stevi Sering Minta Foto Selfie dengan AGK

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!