Tantangan demi tantangan kembali menguji mentalnya. Sekitar tahun 2017 lalu, di kampung halamannya di Cobodoe, Idrus terpilih menjadi Ketua Karang Taruna. Bagi warga Cobodoe dan para pemuda, sosok Idrus dianggap ulet dan irit bicara, namun total dalam mengemban tugasnya sebagai seorang Ketua Karang Taruna.
Di satu sisi, amanat yang diemban Idrus makin bertambah berat. Karena dia harus bisa mengatur waktu agar organisasi kepemudaan dijalankannya itu tidak mengganggu tugas utamanya sebagai guru.
“Pada posisi ini, tentu tanggungjawab dan tantangan akan semakin berat, tapi Alhamdulillah berjalan lancar sehingga tidak mengganggu keduanya. Saya bolak-balik seminggu atau dua minggu sekali antara Cobodoe dan Maidi. Bagi saya kuncinya adalah komunikasi, saya akan selalu siap jika ada hal urgen yang mengharuskan saya untuk hadir saya pasti akan hadir,” tambahnya.
Bagi Idrus, 12 tahun mengabdi di Maidi, salah satu desa di ujung Kota Tidore Kepulauan bukan sesuatu hal yang dianggap tabu apalagi sudah berumah tangga seperti dirinya. Sebab, gaji sebagai guru honorer yang ia terima Rp 1,5 juta perbulan tak cukup mengongkosi dia dan keluarganya.
Bagi dia, yang paling utama adalah menerapkan ilmu yang diperoleh selama di bangku kuliah untuk diajarkan kembali ke siswa dan siswinya agar menjadi cerdas sehingga bisa menggantikan posisinya kelak.
“Saya bertahan sampai hari ini karena Desa Maidi di sana masih membutuhkan guru, untuk itu saya dan teman-teman guru berupaya agar generasi disana bisa mengenyam pendidikan yang layak agar kelak bisa menggantikan posisi kami sehingga daerah ini bisa lebih baik kedepan,” pungkas ayah satu anak ini. (RY-2)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!