Selama mengajar di SMAN 14 Tikep, Idrus bahkan mengaku tak sedikitpun mengeluhkan soal kendala-kendala tersebut.
Soal gaji jangan ditanya, semenjak dari tahun 2012 hingga 2018, gajinya mulai beranjak naik dari Rp 150 ribu menjadi Rp 800 perbulan, lalu menjadi Rp 900 ribu di tahun 2019.
Di tahun 2020, ia lalu diangkat menjadi guru honorer daerah (Honda) dengan gaji Rp 1,5 juta perbulan. Meski sudah belasan tahun dirinya menyandang status guru honorer, ia mengaku tak mencemaskan mengenai gaji.
“Tapi kadang lima bulan baru dibayar, itupun dua bulan saja. Nah untuk tahun 2022 dan 2023 itu tunggakan ada sebanyak 7 bulan yang belum terbayar,” katanya dengan sedikit menahan tawa.
Seiring berjalannya waktu, Idrus mengaku merasa betah dengan lingkungan sekitar termasuk sekolah, karena baginya warga Maidi terutama siswa adalah bagian dari keluarganya sendiri.
“Di jam sekolah, saya memperlakukan mereka sebagai siswa, namun di luar sekolah saya memperlakukan mereka seperti adik dan teman, saya sering mendengar cerita mereka kemudian mengarahkan ke hal-hal positif, selain itu saya sering mengajak mereka untuk ikut dengan saya pulang kampung di Cobodoe di saat waktu libur,” ungkapnya.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!