“Kemudian saya lanjutkan dengan melalui jalur darat yang memakan waktu kurang lebih empat jam baru sampai di Desa Maidi,” katanya.
Niat tulusnya untuk mengabdi menjadi seorang guru di salah satu sekolah di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Halmahera Selatan itu tak segampang yang dipikirkan. Banyak sekali tantangan yang dihadapinya. Maklum, lingkungan dimana ia mengabdi jauh dari hiruk pikuk seperti di lingkungan tempatnya tinggal yakni di Cobodoe, Kecamatan Tidore yang notabenenya masih berada di jantung Kota Tidore Kepulauan.
“Saya tidak tahu kondisi di sana seperti apa waktu saya tiba tahun 2012 silam, akses jalan masih sangat sulit, tidak ada jaringan seluler, dan tidak ada listrik. Saya mengajar mata pelajaran Pendidikan dan Kewarganegaraan dari kelas I sampai III, gaji saya waktu pertama kali diterima sebagai guru honorer itu Rp 150 ribu perbulan,” kisahnya sambil sesekali membuang senyum.
Alumni Universitas Gorontalo ini menceritakan, awalnya ia mengira sekolah tempatnya mengabdi itu memiliki fasilitas pendukung yang terbilang mumpuni seperti sekolah pada umumnya, namun faktanya berbeda dengan yang dia lihat.
“Mengajar di daerah terpencil itu tantangannya banyak, pertama kali saya mengajar itu fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar sangat terbatas, belum lagi kami dihadapkan dengan orang tua siswa yang belum memahami pentingnya pendidikan untuk anak-anak mereka,” kata Edoz, sapaan akrab Idrus Ade.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!