Sementara, Suraida Dahlan, salah seorang pedagang lainnya yang juga turut menyaksikan langsung penertiban itu mengisahkan, sebelum pihak Dinas Perindag, penertiban sudah dilakukan oleh Satpol PP dan dari Dinas PUPR.
“Yang turun duluan itu dari Satpol PP dan juga dari PUPR, mereka datang untuk sampaikan kalau tempat ini belum bisa digunakan, setelah mereka pergi, pak Muhlis Djumadil datang. Jadi waku penertiban itu, kami anggap beliau hanya bercanda,” katanya.
Suraida mengaku, ketika ada pedagang yang merekam kejadian itu melalui kamera android, dia berada persis disamping dan melihat langsung peristiwa itu.
“Sempat pak Muhlis menanyakan kenapa?, ngana (kamu) mau video atau ada siaran langsung. Tapi pedagang yang merekam itu menjawab, hanya vidieo call,” ungkap Suraida.
Kata Suraidah, ketika penertiban berlangsung, para pedagang ini termasuk dirinya bahkan diberikan segepok uang senilai Rp 100 ribu. Uang itu diperuntukkan untuk membayar buruh gerobak yang mengangkut barang-barang mereka.
“Kami bilang tidak mampu angkat barang-barang ini, jadi kalau pak Muhlis kasih uang maka kami angkut pakai gerobak. Tidak menunggu lama, pak Muhlis langsung kasih uang untuk membayar lima gerobak, karena per gerobak itu Rp 20 ribu. Kami saling bercanda, bahkan pak Muhlis dengan candaanya mengatakan kepada kami bahwa kalau begini terus dia sudah tidak bisa menikah,” ungkap Suraida dengan nada sedih.

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!