Sanana, Maluku Utara-Sulitnya mendapatkan jaringan atau akses internet di Desa Waisakai, Kecamatan Mangoli Utara Timur, Kabupaten Kepulauan Sula (Kepsul), Provinsi Maluku Utara (Malut), membuat warganya mengeluh.
Betapa tidak, agar bisa mengakses internet, mereka harus bertarung nyawa di atas tebing batu. Hal itu dilakukan demi mendapatkan jaringan internet guna berkomunikasi dengan sanak saudaranya bila ada keperluan mendadak.
Ketiadaan sinyal telekomunikasi untuk mengakses internet di desanya ini, membuat mereka meluapkan kekesalannya pada pemerintah yang dianggap belum sepenuhnya menjawab kebutuhan mereka itu.
“Rasanya so lala atas katong pung keluhan ke pemerintah daerah. Katong mau bilang kamong tuli, itu seng mungkin sebenarnya kamong so dengar, tapi kamong pura pura tuli,” ujar warga Waisakai, Fatir Umaternate kepada Haliyora.id, Jumat (27/1/2023) yang intinya menyesalkan sikap pemerintah yang belum mendengar keluhan mereka.
Fatir bilang, pemerintah daerah merupakan pemegang kekuasaan di semua lini tapi tidak pro terhadap kesejahteraan rakyat terutama di desanya.
“Sudah berulang kali kami keluhkan bahwa tower di Desa Waisakai tidak lagi berfungsi sehingga masyarakat sulit untuk melakukan komunikasi saat ini. Namun tidak pernah digubris,” katanya.
Oleh Fatir, kondisi saat ini jika ingin mendapatkan akses jaringan internet, warga harus berjalan berkilo-kilo menuju lokasi yang ada jaringan internet.
“Tempatnya itu di atas batu. Namun kalau salah tempat, sudah tidak dapat (jaringan). Bahkan kalau tidak berhati-hati dan jatuh, bisa meregang nyawa,” keluh Fatir.
Meski demikian, ia berharap pada pemerintah daerah bisa menjawab keresahan itu. “Visi misi Sula Bahagia itu harus dijalankan, karena kami butuh bukti bukan janji,” tuntasnya. (RSF-3)

Belum ada komentar disini
Jadilah yang pertama berkomentar disini!