Memutus Rantai Penyebaran Corona di Ternate Lewat Pengelolaan Limbah B3

- Editor

Senin, 29 November 2021 - 07:01 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masker Bekas Berhamburan Ditepi Jalan Kota Tenate

Masker Bekas Berhamburan Ditepi Jalan Kota Tenate

Oleh: Sahrul Jabidi (Team Word Haliyora Liputan Kota Ternate)

Tanggal 23 Juli 2021, Noviyanti Masasabessy, salah satu warga Kelurahan Sangaji, Ternate Utara Kota Ternate, mengaku pasrah ketika hasil tes Polymerase Chain Reaction (PCR) keluar dan hasilnya dinyatakan terkonfirmasi positif Covid-19. Sebelum dirujuk ke RSUD Chasan Boesoirie sebagai salah satu rumah sakit rujukan pasien Covid-19, pada tanggal 18 Juli, Ia sudah merasakan gejala sesak napas, namun tidak seperti biasanya meski ada riwayat penyakit bawaan (Asma).

“Saat dirujuk kerumah sakit, saya melakukan tes PCR sebanyak dua kali dari tanggal 21-22 Juli dan hasilnya positif Covid-19,” kata Novianty, begitu disambangi di rumahnya, Minggu siang 31 Oktober 2021.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Noviyanti mengaku pada saat isolasi mandiri di rumah, sisa bekas masker dan sisa makan hanya dibuang begitu saja, tidak ada pengelolaan atau pemilahan. Bahkan selama melakukan isolasi mandiri dirumah, tidak ada pengawasan baik itu dari Satgas Covid-19 maupun dari pihak tenaga kesehatan, pihak petugas hanya mengantarkan bantuan sosial yang dikhususkan orang mengalami Covid-19.

“Saat di rumah, masker dan lainnya hanya dibung begitu saja, kan kita tidak tahu kalau itu akan menyebarkan Covid-19. Tapi kalau untuk datang dengan sosialisasi pengelolaan limbah pun tidak ada,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi ancaman tersendiri yang harus dihadapi. Sementara Pemerintah Pusat, melalui Ditjen Fasyankes Kementrian Kesehatan menegaskan, untuk menuntaskan persoalan Covid-19 tidak hanya ditekankan pada unsur pelayanan. Melainkan juga melalui pengelolaan limbah.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara mencatat, Ternate merupakan daerah dengan jumlah kasus Covid-19 tertinggi di Maluku Utara yaitu 1.433 positif dan 45 kasus aktif pada 22 Juni 2021. Sementara itu, keterbatasan keterbatasan fasilitas membuat Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate mengaku kewalahan untuk menangani timbunan sampah dengan rata-rata volume perhari sebesar 50 sampai 80 ton. Bahkan, pada April 2021 mencapai 100 ton.

Sekretaris Satgas Covid-19 Kota Ternate, M. Arif Gani  menyatakan, berdasarkan data Satuan Tugas Covid-19 Penanganan kasus Positif Covid-19 menyebutkan kasus terakhir yang terpapar di wilayah Kota Ternate pada tanggal 30 Oktober 2021 terdiri dari 2.928 orang jumlah positif (100%) dikurangi jumlah sembuh 2.850 orang (97%) dan jumlah meninggal 78 orang (3%). Maka dari itu, jumlah kasus positif Kota Ternate tersisa 0 orang positif (0%).  Kasus yang terpapar tersebut terdapat sebanyak 989 orang bejenis kelamin laki-laki dan sebnyak 1,086 perempuan.

BACA JUGA  Warga Asal Kepsul Dilaporkan Hilang di Hutan

Made with Flourish

Potensi Penyebaran Covid-19 Melalui Limbah B3 Pasien

Potensi penyebaran virus Covid-19, tidak hanya terjadi pada kontak tubuh, tetapi juga melalui limbah B3 dari Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) hasil penanganan pasien Covid-19 dan limbah rumah tangga yang terdapat Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Penyebaran Covid-19 melalui pengelolaan limbah B3 ini membuat kementerian LHK mengeluarkan Surat Edaran nomor SE.2/MENLHK/PSLB3/PLB.3/3/2020 tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Covid-19. Surat edaran tersebut ditujukan kepada pemerintah daerah sebagai pedoman untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, Nurbaity Radjabsey, mengatakan pemusnahan limbah infeksius Covid-19 tidak hanya dari Rumah Sakit yang menjadi tempat perawatan pasien terkonfirmasi positif covid-19 di Ternate. Namun dapat bersumber dari masyarakat atau rumah tangga ODP seperti limbah bekas masker sarung tangan, tisu bekas, sisa makan serta Alat Pelindung Diri (APD). Kriteria pengelolaan limbah B3 disesuaikan dengan prosudur secara tepat dan benar, karena sangat penting untuk memutus mata rantai penyebaran  Covid-19. Ini disebabkan karena penyebaran Covid-19 sangat cepat.

Nurbaity menyebutakan, pasien positif Covid-19 yang melakukan isolasi di rumah, ditangani masing-masing puskesmas di kecamatan. Pemusnahan libah B3 hasil bekas pasien Covid-19 dilakukan setiap tiga hari sekali. “Puskesmas yang sendirilah mengemas bekas masker dan maupun alat pelindung diri kemudian diserahkan kepada Dinas Kesehatan untuk dilakukan pemusnahan dengan cara membakar di dalam insinerator dengan suhu 1.200 derajat Celsius” kata Nurbaity, Senin, 1 November 2021.

Made with Flourish

Keterbatasan Sarana Pendukung

Nurbaity mengaku kewalahan karena sarana pendukung berupa insinerator dengan kemapuan suhu 1.200 derajat Celcius masih terbatas. Jumlah insiniator yang dimiliki sebanyak 2 unit, namun 1 unit mengalami kerusakan.

Berdasarkan laporan data Dinas Kesehatan Kota Ternate melalui Bagian Kesehatan Lingkungan menyebutkan bahwa, sejak bulan Januari hingga Juli tercatat  sebayak  15.898 perliter limbah B3 yang di musnahkan. Jumlah ini terdiri dari limbah medis regular sebanyak 6.890 liter, limbah medis covid-19 sebanyak 7.894 liter dan limbah medis vaksinasi covid-19 sebanyak 1.027 liter.

Made with Flourish

Sekretaris Umum Perhimpunan Sarjana Kesehatan Masyarakat Indonesia Maluku Utara, Mahri Samsul,  menyatakan pemusnahan limbah medis Covid-19, tidak ada alternatif lain selain dengan cara membakar diinsinerator, kalau limbah diluar medis mungkin bisa dilakukan dengan cara lain misalnya dengan open damping, lendfiil atau sebuah area yang menjadi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah, tetapi limbah medis, memang harus dimusnahkan dengan cara dibakar dalam insinerator.

BACA JUGA  Gubernur Malut Terus Bongkar Tim Work, Puluhan Pejabat Eselon III dan IV Dilantik

Menurut, Mahri, bahwa salah satu kelemahan baik di tingkat Puskesmas maupun Dinas Kesehatan pada limbah infeksius misalnya sisa makan, tisu, bahan-bahan yang habis pakai, seharusnya limbah infeksius disediakan wadah tersendiri, sehingga dapat dilakukan pemilahan dan pemusnahan.

“Sebenarnya, ada kelalaian, karena tidak dilakukan pengawasan secara ketat dan mentoring dimana tempat pasien yang melakukan isolasi mandiri dirumah, sejak dari awal sudah dicurigai, bahwa pengelolaan limbah setiap pasien yang melakukan isolasi mandiri dirumah menambah pekerjaan tenaga puskesmas, karena tenaga kesehatan sedikit, sementara beban kerja semakin besar, padahal Covid-19 minimal memiliki data sendiri berapa jumlah pasien Covid-19 yang melakukan isolasi mandiri di kecamatan setempat,” jelas Mahri, Jumat siang 19 November.

Data Dinas Kesehatan Kota Ternate menyebutkan, jumlah fasilitas pelayanan kesehatan yang tersebar di Kota Ternate terdapat sebanyak 14 Fayankes. Jumlah ini terdiri dari 11 puskesmas, 1 laboraterium kesehatan daerah dan 1 rumah sakit daerah. Meski begitu menurut Nurbaity, tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 sebanyak 200 orang dan satu orang diantaranya dinyatakan meninggal akibat terpapar Covid-19 yang terdapat di puskesmas Gambesi.

Made with Flourish

Butuh Kesadaran Bersama

Direktur RSUD Chasan Boesoirie, Samsul Bahri mengatakan pengelolaan Limbah Covid-19 tidak bisa disatukan sama halnya dengan limbah lainnya, limbah B3 dapat diolah untuk dilakukan pemusnahan.

Untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 melalui pengelolaan limbah B3, harus diikuti dengan pola prilaku manusia. Membangun kesadaran masyarakat serta pengelolahan limbah B3 dan rumah tangga hasil Covid-19 dari hulu sampai hilir menjadi kunci keberhasilan memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19.

“Jadi kalau cara pengelolaan limbah B3 yang baik maka Covid-19 hilang dengan sendirinya. Setiap orang bisa memusnahkan masker dengan sendiri, dari pada membuangnya sembarangan yang ada akhirnya beresiko terhadap orang lain, kesadaran bersama anatara petugas dan masyarakat untuk memutuskan mata rantai penularan Covid-19,” ungkap Samsul 2 November.

Liputan ini didukung oleh Fellowship Data And Computational Journalism (DCJ) Banjarmasin-Maluku Tahun 2021 

Berita Terkait

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK
Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 
Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar
Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan
Tauhid Soleman Kembalikan Formulir Pendaftaran Balon Walikota Ternate ke Gerindra
Kadisdik Halsel Klaim 24 Ruang Kelas Sekolah Ala Rusia Tuntas 100 Persen
Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu
AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut
Berita ini 232 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:52 WIT

Tauhid Soleman Kembalikan Formulir Pendaftaran Balon Walikota Ternate ke Gerindra

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Rabu, 17 April 2024 - 17:00 WIT

Saksi Akui Terdakwa Stevi Sering Minta Foto Selfie dengan AGK

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!