Penyerahan Damai Tanah Palestina dari Uskup ke Khalifah

  • Whatsapp

Haliyora

Tahun 634 menjadi titik balik sejarah tanah Palestina dan Yerusalem. Pada Tahun itu Khalifah Umar bin Khattab memasuki wilayah palestina. Mengendarai unta putih dengan pakaian sederhana, Khalifah Umar dikawal pemuka Kota Yerussalem yang juga seorang Uskup Yunani, Sophoronius namanya.

Bacaan Lainnya

Uskup Agung Sophoronius adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Yerusalem kala itu. Sophoronius kemudian meminta Khalifah Umar menerima penyerahan kekuasaan di Yerusalem yang berlangsung dengan damai.

Ini digambarkan oleh Karen Amstrong dalam Holy War yang dikutip dalam peradaban islam di Yerusalem oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio.

Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar (634-644 M/13-23 H), dengan rendah hati Yerusalem dirubah menjadi negeri yang manusiawi, damai dan tertib. Penduduk Palestina hidup harmonis tanpa perbedaan suku dan agama. Tidak ada pembunuhan, perusakan hak milik, tidak juga ditemukan pembakaran simbol-simbol agama, tidak ada pengusiran, apalagi pemaksaan memeluk agama.

Penduduk Palestina saat itu menjalankan perintah agama masing-masing dengan nyaman serta leluasa, melakukan berbagai aktifitas ekonomi dengan aman, kehidupan berjalan dengan penuh toleransi dan menghormati antara satu dengan lainnya.

Saat Khalifah Umar meminta Uskup Sophoronius mengantarnya ke al- Haram asy-Syarif. Di sana Khalifah Umar berdoa di tempat Nabi Muhammad SAW saat melakukan perjalanan isyra’. Melihat apa yang dilakukan Khalifah Umar, Uskup Sophoronius sempat khawatir, bahwa penaklukkan Yerusalem akan ditandai dengan kengerian. Sebab kekhawatiran ini telah diketahui oleh uskup sebagaimana telah diramalkan oleh Nabi Daniel yang diimani uskup.

Tetapi apa yang menjadi kekhawatiran uskup berbeda dengan yang terjadi, malah sebaliknya, di bawah kepemimpinan Khalifah Umar, keadilan di Yerusalem bisa ditegakkan. Kehidupan rakyat makmur dan sejahtera. Khalifah Umar kemudian meminta kesediaan Uskup Sophoronius mengantarnya ke tempat-tempat suci umat Nasrani. 

Saat berada di Gereja Makam Suci (The Cruch Holy Sepulchre), tibalah waktu Zuhur. Uskup menyilahkan khalifah bersembahyang di dalam gereja. Namun dengan sopan, khalifah menolak.  Alasannya, jika dia mendirikan sholat di dalam gereja, maka akan dikenang oleh umat islam, dan dengan dalih itu pula, bisa jadi di kemudian hari akan dibangun mesjid di tempat itu untuk mengenangnya. Itu berarti Gereja Makam Suci akan musnah. Ini yang tidak dikehendaki oleh khalifah.

Klalifah Umar kemudian keluar dan mendirikan sholat yang tidak jauh dari lokasi gereja, dan benar saja apa yang menjadi kekhawatiran khalifah. Tak lama kemudian di tempat khalifah mendirikan sholat didirikanlah sebuah masjid yang berhadapan dengan Gereja Makam Suci, pendirian masjid ini sebagai persembahan untuk sang khalifah.

“Masjid tersebut didirikan sebagai tanda penaklukkan umat islam atas Yerusalem di Palestina,” sebagaimana catatan Amstrong.

Khalifah Umar kemudian mengundang tujuh puluh keluarga Yahudi untuk tinggal di Yerusalem.  Padahal, sejak 70 masehi, Kota Yerusalem terlarang bagi kaum Yahudi.  Dan sejak 500 tahun pengusiran mereka dari Yerusalem, saat itulah kali pertama kaum Yahudi diizinkan menjalankan agama mereka dengan bebas dan damai di Yerusalem.

Pemerintahan khalifah membawa perubahan bagi peradaban baru. Tidak ada lagi penghinaan terhadap pemeluk agama lain apalagi pembunuhan.  Keadilan, toleransi dan saling menghormati menghiasi kehidupan bagi pemeluk islam, nasrani dan yahudi  di Yerusalem. (Redaksi*)

Pos terkait