Penyerahan Damai Tanah Palestina dari Uskup ke Khalifah

- Editor

Sabtu, 5 Juni 2021 - 10:39 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Haliyora

Tahun 634 menjadi titik balik sejarah tanah Palestina dan Yerusalem. Pada Tahun itu Khalifah Umar bin Khattab memasuki wilayah palestina. Mengendarai unta putih dengan pakaian sederhana, Khalifah Umar dikawal pemuka Kota Yerussalem yang juga seorang Uskup Yunani, Sophoronius namanya.

Uskup Agung Sophoronius adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Yerusalem kala itu. Sophoronius kemudian meminta Khalifah Umar menerima penyerahan kekuasaan di Yerusalem yang berlangsung dengan damai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ini digambarkan oleh Karen Amstrong dalam Holy War yang dikutip dalam peradaban islam di Yerusalem oleh Dr. Muhammad Syafii Antonio.

Di bawah kepemimpinan Khalifah Umar (634-644 M/13-23 H), dengan rendah hati Yerusalem dirubah menjadi negeri yang manusiawi, damai dan tertib. Penduduk Palestina hidup harmonis tanpa perbedaan suku dan agama. Tidak ada pembunuhan, perusakan hak milik, tidak juga ditemukan pembakaran simbol-simbol agama, tidak ada pengusiran, apalagi pemaksaan memeluk agama.

Penduduk Palestina saat itu menjalankan perintah agama masing-masing dengan nyaman serta leluasa, melakukan berbagai aktifitas ekonomi dengan aman, kehidupan berjalan dengan penuh toleransi dan menghormati antara satu dengan lainnya.

BACA JUGA  Tuntutan Terjawab, Ketua DPRD Minta Nakes yang Berunjuk Rasa Bubarkan Diri

Saat Khalifah Umar meminta Uskup Sophoronius mengantarnya ke al- Haram asy-Syarif. Di sana Khalifah Umar berdoa di tempat Nabi Muhammad SAW saat melakukan perjalanan isyra’. Melihat apa yang dilakukan Khalifah Umar, Uskup Sophoronius sempat khawatir, bahwa penaklukkan Yerusalem akan ditandai dengan kengerian. Sebab kekhawatiran ini telah diketahui oleh uskup sebagaimana telah diramalkan oleh Nabi Daniel yang diimani uskup.

Tetapi apa yang menjadi kekhawatiran uskup berbeda dengan yang terjadi, malah sebaliknya, di bawah kepemimpinan Khalifah Umar, keadilan di Yerusalem bisa ditegakkan. Kehidupan rakyat makmur dan sejahtera. Khalifah Umar kemudian meminta kesediaan Uskup Sophoronius mengantarnya ke tempat-tempat suci umat Nasrani. 

Saat berada di Gereja Makam Suci (The Cruch Holy Sepulchre), tibalah waktu Zuhur. Uskup menyilahkan khalifah bersembahyang di dalam gereja. Namun dengan sopan, khalifah menolak.  Alasannya, jika dia mendirikan sholat di dalam gereja, maka akan dikenang oleh umat islam, dan dengan dalih itu pula, bisa jadi di kemudian hari akan dibangun mesjid di tempat itu untuk mengenangnya. Itu berarti Gereja Makam Suci akan musnah. Ini yang tidak dikehendaki oleh khalifah.

BACA JUGA  Sikapi TPP Nakes, PDIP Malut Berikan Instruksi ke Fraksi di DPRD

Klalifah Umar kemudian keluar dan mendirikan sholat yang tidak jauh dari lokasi gereja, dan benar saja apa yang menjadi kekhawatiran khalifah. Tak lama kemudian di tempat khalifah mendirikan sholat didirikanlah sebuah masjid yang berhadapan dengan Gereja Makam Suci, pendirian masjid ini sebagai persembahan untuk sang khalifah.

“Masjid tersebut didirikan sebagai tanda penaklukkan umat islam atas Yerusalem di Palestina,” sebagaimana catatan Amstrong.

Khalifah Umar kemudian mengundang tujuh puluh keluarga Yahudi untuk tinggal di Yerusalem.  Padahal, sejak 70 masehi, Kota Yerusalem terlarang bagi kaum Yahudi.  Dan sejak 500 tahun pengusiran mereka dari Yerusalem, saat itulah kali pertama kaum Yahudi diizinkan menjalankan agama mereka dengan bebas dan damai di Yerusalem.

Pemerintahan khalifah membawa perubahan bagi peradaban baru. Tidak ada lagi penghinaan terhadap pemeluk agama lain apalagi pembunuhan.  Keadilan, toleransi dan saling menghormati menghiasi kehidupan bagi pemeluk islam, nasrani dan yahudi  di Yerusalem. (Redaksi*)

Berita Terkait

Tunggak Jasa Medis Rp 1 Miliar, Ini Penjelasan Dirut RSUD Ir. Soekarno
Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK
Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 
Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar
Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan
Tauhid Soleman Kembalikan Formulir Pendaftaran Balon Walikota Ternate ke Gerindra
Kadisdik Halsel Klaim 24 Ruang Kelas Sekolah Ala Rusia Tuntas 100 Persen
Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu
Berita ini 327 kali dibaca
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 18 April 2024 - 10:10 WIT

Tunggak Jasa Medis Rp 1 Miliar, Ini Penjelasan Dirut RSUD Ir. Soekarno

Rabu, 17 April 2024 - 22:30 WIT

Selain Windi, Ada Perempuan Lain yang Disebut di Sidang Kasus Suap AGK

Rabu, 17 April 2024 - 21:55 WIT

Maju di Pilbup Halsel, Putra Obi Ini Bidik Demokrat dan Gerindra 

Rabu, 17 April 2024 - 20:51 WIT

Pemkab Halsel Gratiskan Umroh Untuk 100 Imam Masjid, Anggarannya Rp 4 Miliar

Rabu, 17 April 2024 - 20:35 WIT

Soal Akun SIPD Pemprov Malut Diblokir Kemendagri, DPRD Berbeda Pandangan

Rabu, 17 April 2024 - 19:32 WIT

Kadisdik Halsel Klaim 24 Ruang Kelas Sekolah Ala Rusia Tuntas 100 Persen

Rabu, 17 April 2024 - 18:11 WIT

Mislan Syarif, Kandidat Balon Bupati Pertama yang Daftar di Partai Gerindra Taliabu

Rabu, 17 April 2024 - 18:04 WIT

AGK Akui Minta Dinas PUPR dan BPBJ Atur Menangkan Kian di Proyek Halut

Berita Terbaru

error: Konten diproteksi !!