Warga Desa Woii Obi Keluhkan Mahalnya Biaya ke Labuha, Ini Penjelasan Kadishub Halsel

Halsel, Haliyora

Sejak Mei 2020 hingga Maret 2021, masyarakat desa Woii, Kecamatan Obi Timur kesulitan bepergian ke luar. Pasalnya, sejak kurang lebih sembilan bulan terakhir tidak ada lagi kapal penumpang reguler melayani penumpang dari Obi Timur, khususnya desa Woii.

Bacaan Lainnya

Itu disampaikan Sekretaris BPD Desa Woii, Rolly A. Pureng saat diwawancarai Haliyora via telepon, Rabu  (10/03/2021).

Kata Rolly, saat ini warga masyarakat desa Woii sangat kesulitan bepergian melalui jalur laut. Mereka harus mengeluarkan ongkos lebih besar untuk pergi ke Laiwui dan Wayaloar mencari carteran jika ingin ke Bacan atau ke Ternate.

“Sejak Mei 2020 hingga Maret 2021 ini tidak ada lagi kapal reguler yang melayani penumpang di desa Woii. Para pedagang maupun masyarakat biasa yang ingin ke Bacan dan ke Ternate untuk berbelanja harus mencari carteran hingga ke laiwui dan Wayaloar. Harus keluarkan ongkos sangat mahal, mencapai jutaan rupiah,” ungkapnya.

Rolly berharap pemilik kapal penmpang untuk kembali melayani penumpang di Woii. “Dulu secara reguler KM. Obi Permai melayani penumpang di sini, namun sejak sembilan bulan terakhir tidak melayani. Jadi kami harap pemilik kapal penumpang untuk kembali melayani penumpang di desa kami ini,” imbuhnya.

Diwawancarai terpisah, pada Rabu (10/3/2021),  Kepala Dinas Perhubungan Halsel, Ahmad Rajak juga membenarkan keluhan warga desa Woii tersebut.

Kata dia, pelayanan kapal  penumpang di Kecamatan Obi Timur tidak lagi normal, bahkan Dishub sudah tindaklanjut melalui rapat bersama DPRD dan Syahbandar Labuha mengenai hal itu.

“Kami sudah bahas melalui rapat bersama DPRD Halsel dan Syahbandar minggu lalu, sehingga sudah ada pelayanan,” katanya.

Sesuai hasil rapat, sambung Ahmad, sudah ada kesepakatan antara DPRD, Dishub, Syahbandar dan pemilik kapal Sumber Raya 04 mengantikan kapal Obi permai melayani penumpang sampai ke Desa Bono dan Woii, Kecamatan Obi Timur.

“Tapi khusus kapal Sumber Raya 04, tidak boleh ada kapal lain yg berangkat dari Jikotamo pada hari yang sama. Namun pihak Syahbandar kemudian bikin lain lagi, jadi nanti tanya ke pihak Syahbandar apa alasannya,” ungkap Ahmad tanpa menjelaskan kebijakan lain yang diambil Syahbandar. (Asbar-1)

Pos terkait