Serba Kekurangan, Anak di Halsel Ini ‘Dipaksa’ Tidak Sekolah dan Terbaring Sakit di Gubuk Tua

  • Whatsapp
Kondisi Ananda Musakar di Gubuk Tua Bersama Mama Tua (kaka dari ayahnya), (foto : Asbar/Haliyora.com)

Halsel, Haliyora.com

Sudah miskin dan piatu, tak dapat berjalan pula. Itulah derita Ananda Musakar, bocah 12 tahun yang kini hidup bersama bibinya di sebuah gubuk tua, di Desa Labuha, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan.

Bacaan Lainnya

Ananda kehilangan ibunya sejak 10 tahun lalu saat bocah itu baru berusia dua tahun. Ibunya meninggal dunia karena menderita sakit. Ayahnya kemudian menikah lagi dan hidup bersama istri mudanya, sementara Ananda Musakar dititipkan kepada bibinya (kakak perempuan ayahnya), Ibu Ade Ibrahim.

“Sebenarnya Ananda masih punya lima saudara, namun mereka telah berkeluarga dan tidak tau mereka berada di mana,”demikian tutur Ibu Ade kepada Haliyora.com, pada Jum’at Sore (17/07/2020) di gubuk tua itu.

Katanya, mereka kehilangan kontak dengan saudara-saudara Ananda lantaran tidak memiliki alat komunikasi.

“Dia (Ananda) pe papa dan sudara yang lain tra bisa hubungi karna tarada hp, baru dong pe nomor me tara ada,”keluhnnya.

Wanita tua yang akrab disapa mama Ade itu mengisahkan, awalnya ia bersama Ananda tinggal di desa Dowora, Kecamatan Gane Barat. Mereka baru pindah ke Labuha Bacan, sekitar empat bulan terakhir, sejak April lalu dan menempati sebuah gubuk tua.

Kata dia, Gubuk tua yang ia tempati sekarang ini juga bukan miliknya. Gubuk tua itu milik warga sekitar yang dipinjamkan untuk tinggali sementara.

“Gubuk ini bukan tong punya. Ini orang kase pinjam torang tinggal sementara,”tutur ibu Ade sendu.

Untuk makan sehari-hari ia dan ponakannya hanya mengandalkan belas kasihan tetangga, karena tidak memiliki pekerjaan.

“Saya tara ada doi, untung tong pe tetangga sabla hati bae kong selalu kase tong makanan tiap hari,”ujarnya pilu.

Kondisi Ananda Musakar di Gubuk Tua Bersama Mama Tua (kaka dari ayahnya)

Kondisi kehidupan mama Ade dan ponakannya itu juga dibenarkan Jana, tetangga Mama Ade. Jana mengaku sering mengantarkan makanan untuk tetangganya yang miskin itu.

“Ananda Musakir dan bibinya memang hidup serba kekurangan. Saya sering mengantarkan makanan kepada mereka jika ada kelebihan. Saya kasihan liat pa dorang,”tutur Jana membenarkan cerita mama Ade.

Derita mama Ade dan Ananda Musakar tidak hanya sampai di situ. Tiga bulan lalu Ananda Musakar terjatuh dan kaki bagian lutunya bengkak. Semakin hari bengkak di kakinya semakin membesar dan tidak dapat berjalan lagi.

Selam tiga bulan ini Musakar hanya meringis menahan sakit di atas tikar lusuh dalam gubuk tua, karena tak punya biaya untuk berobat ke puskesmas.

“Saya Kasihan lihat dia (Ananda) pe kaki itu pasti sakit sekali, dorang itu memang susah, tapi saya juga tara bisa bantu lebih,”ungkap Jana empati.

Mendengar ucapan Jana, butiran air mata mama Ade mulai menetes, membayangkan masa depan ponakannya.

Sambil menahan tangis, mama ade berucap, kasihan Ananda, sebenarnya anak seumuran dia ini kan musti sekolah. Tetapi torang tarada doi, jadi dia ini skolah SD me tara sampe-sampe. Sekarang dia pe kaki bangka lagi bagini. Saya so tara tau dia pe nasib bagaimana. Saya so tua bagini. Satu dua hari kalau saya pe ajal datang, sapa urus dia lagi,”keluh mama Ade menyayat hati.

Sesaat suasana jadi hening kala mendengar jeritan hati mama Ade. Lalu Jana membuka suara. Tetangga Mama Ade yang baik hati itu berusaha menenangkan hati kami semua terbawa suasana.

“Torang sabar dan selalu berdo’a, mudah-mudahan Pemerintah atau pihak mana saja yang mau membantu biaya pengobatan Ananda agar bisa sembuh seperti sedia kala,”harapnya. (Asbar)

Pos terkait