Curhat Pelaku Karantina Mandiri Covid-19: “Kami Butuh Perhatian”

  • Whatsapp
Ilustrasi sampel spesimen pasien covid-19.

Ternate, Haliyora.com

Pandemi corona virus disease atau yang disingkat Covid-19, masih saja terus berlangsung termasuk di Provinsi Maluku Utara (Malut). Bahkan, akhir-akhir ini kurva penularannya terus bertambah naik baik pada angka terkonfirmasi positif maupun jumlah yang meninggal dunia.

Bacaan Lainnya

Khusus di Kota Ternate, kondisi ini diperparah dengan makin sulitnya mendapatkan lokasi karantina bagi para pasien yang dinyatakan positif. Belum lagi fasilitas di rumah sakit rujukan (RSUD Chasan Boesoeri) yang dikabarkan tak mampu lagi menampung pasien penderita.

Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan pelaksanaan karantina mandiri bagi mereka yang diketahui positif terjangkit covid-19. Di Ternate tercatat sudah sekitar lebih dari 30-an yang menjalani karantina mandiri setelah dua lokasi karantina yakni Hotel Velya dan Hotel Dragon, sudah tak bisa lagi menampung tambahan pasien.

Sayangnya, dibalik itu terselip cerita yang kurang mengenakkan terkait karantina mandiri ini. Salah satu yang dinyatakan positif reaktif berdasarkan rapid tes dan wajib menjalani karantina mengaku jika selama masa “isolasi diri” itu, tidak mendapat perhatian dari pemerintah.

“Sudah hampir 10 hari ini saya menjalani karantina mandiri di rumah pasca dinyatakan reaktif (rapid test). Tapi sampai hari ini tak ada satupun petugas yang datang mangente (berkunjung) sekedar memeriksa atau mengecek kondisi saya,” ucapnya membuka percakapan dengan Haliyora.com via telepon seluler.

Perempuan yang minta namanya tidak dipublikasi itu mengaku, hanya berupaya mengobati dirinya. “Saya memang sempat alami sakit yakni sulit bernapas. Bahkan di awal-awal sakit, indera penciuman saya tidak berfungsi. Tapi hingga kini hanya berupaya mengobati diri sendiri,” tuturnya.

Ironisnya, bukan saja tak mendapat perhatian secara medis, sejak disuruh untuk melakukan karantina mandiri, dirinya mengaku tidak diberi kontak person atau hotline yang sewaktu-waktu bisa dihubungi.

“Kalau tiba-tiba sakit yang butuh perawatan medis, kami harus lapor pada siapa? Sementara untuk keluar rumah dilarang,” ucapnya setengah bertanya.

Terakhir, dirinya menitip pesan untuk disampaikan pada pemerintah, khususnya Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Ternate. “Sering-seringlah kunjungi kami. Datang dan periksa. Jangan cuma suruh karantina mandiri, lalu tidak terurus,” pungkasnya. (Red)

Pos terkait