Hubungan Home Schooling, Televisi dan Internet

  • Whatsapp


Ihsan Said
Widyaiswara Ahli Madya LPMP Maluku Utara

Selama pandemi Covid-19, anak saya sudah 4 pekan tidak sekolah, #diRumahAja.
Ada yang nanya ke saya, “Gimana belajarnya?”
Jawab saya, “Home schooling, alias belajar di rumah.”

Bacaan Lainnya

Orang tua yang amanah wajib mengajari anaknya. Tapi banyak orang tua lepas tanggung jawab dan menyerahkan tugas itu kepada guru di sekolah. Mereka juga lupa bahwa belajar tidak harus di sekolah. Belajar jadi identik dengan sekolah. Tidak sekolah dianggap tidak belajar. Lebih parah lagi, mereka merasa kewajiban mendidik anak sudah tunai dengan mengirim anak ke sekolah.

Orang tua di Jepang tidak begitu. Di rumah, pendidikan anak terutama terkait disiplin/karakter dan literasi (membaca dan menulis) menjadi urusan orang tua, terutama ibunya. Guru adalah ibu kedua di sekolah. Dan anak senang sekali kalau sekolah adalah rumah kedua baginya.

Tapi Jepang beda dengan kita. Saya lihat, banyak orang tua terutama para ibu, yang mengeluhkan betapa sulitnya membimbing anak-anak mereka selama home schooling ini. Mulai dari tugas dari guru yang menumpuk, keterbatasan orang tua membantu pelajaran anak2 mereka, belum lagi urusan dapur, sumur, kasur dan lain sebagainya. Bahkan berbagai keluhan tersebut berseliweran di berbagai postingan medsos, dimana hal tersebut setidaknya menggambarkan dahsyatnya kesulitan yang dialami orang tua.

Persoalan lain adalah, guru/orang tua sering salah kaprah soal belajar. Prinsipnya yang penting anaknya punya nilai bagus. Patokannya selalu nilai tes. Paham tidak paham itu soal lain. Nah, banyak guru/orang tua yang tidak paham bahwa anaknya tidak paham. Mereka hanya mau tahu berapa nilai anaknya.

Sebagai ayah, saya wajib mendampingi anak saya belajar sejak masih SD sehingga tahu di bagian mana anak saya masih kesulitan lantas saya perbaiki bagian itu. Saya pikirkan cara untuk mengajarinya. Saya selami kebutuhan anak saya, dan saya carikan cara untuk memenuhinya.

Tapi, apa yang dilakukan oleh kebanyakan guru/orang tua saat anaknya tidak bisa matematika? Suruh anaknya les. Guru/orang tua tidak tahu apa masalah anaknya. Mereka tidak tahu kenapa anaknya tidak bisa, dan mereka tidak mau tahu. Itu kayak dokter yang langsung memberi obat pada pasien tanpa memeriksanya. Maaf, itu bukan belajar. Anak2 yang dididik dengan cara itu ketika dewasa akan sebagai orang yang tidak cukup pengetahuan dasar. Kelak kalau dia menjadi orang tua akan menerima warisan ilmu mendidik anaknya dengan cara yang sama, kurang pendidikan dasar lagi.

Tak heran, ada sangat banyak orang tua yang tak sanggup bernalar dengan baik. Kelak anak-anak mereka pun akan begitu. Jalan pintas yang dilakukan, orang tua menyuruh anaknya belajar dengan cara menghafal. So, selama pandemi Covid-19 anak #diRumahAja sebenarnya bukan masalah besar. Masalah besar itu adalah kalau anak kembali ke sekolah tapi tidak mau belajar, dan guru/orang tua merasa fine2 aja.

Belajar mestinya menyenangkan.

Sejak 13 April 2020, sebagai pengguna tv kabel, saya ‘mencoba’ mengikuti program belajar jenjang SD via TVRI bersama anak saya selama ± 30 menit. TVRI akan menyiarkan program ini selama 3 bulan ke depan, sebagai respon Mendikbud guna membantu peserta didik yang memiliki keterbatasan pada akses internet, baik karena alasan ekonomi maupun letak geografis. Televisi termasuk salah satu media audio-visual. Adakah pengaruhnya buat kecerdasan anak?

Ternyata, anak saya kurang senang menonton TVRI. Saya menduga, penyebabnya karena kemasannya kurang menarik. Pembelajaran via televisi hanya satu arah alias monologis. Saat belajar, proses interaktif dan dialogis tidak terjadi. Materi disampaikan secara linier dan mungkin cepat membosankan. Belajar seperti itu akan terasa berat, tidak menyenangkan, dan memerlukan daya tahan. Padahal anak saya sangat butuh pemahaman. Kalau ternyata anak saya belum paham, di situlah saya perlu melakukan pendekatan individual. Bagian ini, sekali lagi, tidak bisa banyak diharapkan dari televisi. Berbeda kalau anak disuruh nonton film.

Dulu, pada awal 90an, saya juga sering menonton program pendidikan melalui siaran TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) dan mengingatkan saya pada serial boneka Si Unyil, yang pernah kita miliki dulu.

Film Si Unyil dipenuhi karakter-karakter yang hebat dan sampai sekarang beberapa masih saya ingat. Selain Unyil sebagai tokoh utama, banyak tokoh kuat di film tersebut: Ada Pak Raden, ada si plontos Cuplis, anak Tionghoa Meilani, Ucrit, dan Pak Ogah. Semua melekat dalam ingatan. Anda tahu, setiap karakter yang kuat selalu melekat dalam ingatan. Film Si Unyil menunjukkan dan memberi contoh melalui cerita yang menyenangkan tentang harmoni di dalam keberagaman.

Tapi sekarang saya percaya, belajar melalui tv tidak akan bisa menggantikan proses belajar mengajar di kelas. Kalau situasi sekarang masih darurat Covid19, maka belajar melalui TV sifatnya hanya komplementer.

Dulu hanya orang-orang kaya yang sanggup membeli televisi dan pasang telepon. Sekarang anak2 TK/SD dan pengangguran pun menggunakan laptop dan telepon seluler. Listrik juga menyala terang di setiap rumah. Kalau dalam dunia pendidikan, anak-anak inilah yang sekarang menjadi murid di sekolah kita. Anak-anak yang lahir di era digital. Kita sering menyebut mereka dengan istilah generasi Y dan millenials.

Bagaimana gaya belajar mereka?

Anak-anak sekarang, sejak SD sudah melek internet. Tanpa perlu diajari, mereka sudah tahu bagaimana cara mengoperasikannya. Mereka sangat cepat menemukan dimana game tersimpan. Banyak sekali pengetahuan yang dipahami cukup dengan mengklik Google. Ketika guru memberikan mereka assigment dengan memberi kata kunci, mereka langsung berselancar dan memberikan interpretasi dari apa yang mereka temukan dalam hitungan menit. Belajar menjadi lebih hidup dan menyenangkan via internet.

Adakah pengaruhnya bagi kecerdasan anak?

Anak-anak yang otaknya banyak menerima input secara digital, secara kognitif bisa menjadi superior. Mereka bisa lebih cepat menyerap informasi dan cepat pula mengambil keputusan. Itu karena mereka didukung oleh banyaknya informasi yang masuk dalam otak dan pandai mengklasifikasikannya. Simpulan ini menurut Garry Small, seorang pakar saraf dari University of California, Los Angeles. Kondisi semacam ini membuat struktur otak mereka berubah menjadi multitasking. Mereka bisa belajar sambil menonton YouTube, mendengarkan musik, men-tweet, chatting, mencari tutorial atau trailer film terbaru dan berselancar di dunia maya. Itulah suasana belajar yang menyenangkan. Dan, bagi mereka, belajar mestinya menyenangkan. Apalagi sejak kecil, mereka sudah dibesarkan dengan cara belajar yang menyenangkan.

Kondisi semacam inilah yang kadang kurang dipahami oleh para guru di sekolah. Mereka tidak percaya kalau anak-anak bisa belajar sambil nonton YouTube, mendengarkan musik atau chatting dengan smartphone. Tapi hari gini, masih ada sekolah Islam Terpadu di Kota Ternate yang melarang muridnya membawa HP ke sekolah. Alasannya, guru-guru khawatir para siswa nonton film bokep. Nah, ketika anak kita bermasalah, kita langsung menganggap sumber masalahnya ada pada anak dan HP-nya. Kenapa bukan pada guru dan orang tua?

Lalu, harus bagaimana dong?

Menurut saya, kita tak bisa lagi memaksa anak-anak kita belajar dengan cara lama, cuman modal buku ajar dan papan tulis di kelas. Kasihan mereka. Apalagi struktur otaknya juga sudah berubah. Maka, para orang tua dan guru yang harus menyesuaikan diri dengan cara belajar mereka. Jangan dibalik!

Ayo berubah. Tak sulit kok..! 

Pos terkait