Ini Cerita Pasien Positif Covid-19 Dibalik Dinding Isolasi

  • Whatsapp

Ternate, Haliyora.com

Seorang pasien positif Covid-19 yang saat ini tengah menjalani masa perawatan di RSUD Chasan Boesoeri. Pada Haliyora.com, Mas Bro (sebut saja nama demikian) mau buka-bukaan tentang kondisi yang dialaminya dan membeberkan kisahnya dari balik tembok isolasi..

Bacaan Lainnya

****

Pasca divonis positif Covid-19, Mas Bro langsung diisolasi di RSUD Hasan Boesoeri Ternate, Mas Bro saat ini bersama delapan temannya. Sudah lebih dari sepekan ini dirinya bersama satu pasien lainya ditempatkan di satu ruangan.

“Setiap ruangan isolasi ditempati dua pasien,” ucapnya membuka percakapan dengan Haliyora.com saat dihubungi via telepon seluler, Rabu (29/04/2020) malam.


Bagaimana tanggapan pihak RSUD Chasan Boesoeri soal curhat “bocoran” perlakuan yang diterima para pasien Covid-19 di ruang isolasi RS tersebut?
Baca beritanya disini
#TetapDiRumah
#LawanCovid19
#Haliyora

Dikirim oleh Haliyora.com pada Kamis, 30 April 2020


Ada lebih dari enam orang pasien waktu pertama ia masuk. Tapi tak lama kemudian, satu dinyatakan sembuh dan sudah keluar.

Saat diisolasi tepatnya di kamar isolasi, dianggap seperti hidup dalam penjara. Dikisahkan, semua akses dibatasi. Kabel tv pun dicabut. “Tapi masih diizinkan untuk menelpon pada keluarga,” terangnya.

Hal paling ganjal mulai terasa setelah beberapa kemudian. Bersama pasien lain, mereka baru menyadari bahwa mereka seperti “orang waras yang kemudian dipaksa menjadi gila”.

“Semua pasien merasa sehat-sehat saja sejak pertama divonis positif hingga saat ini. Mereka semua segar bugar. Tidak ada yang mengeluhkan sakit atau mengalami gejala seperti flu, batuk, sesak nafas dan lain-lain,” ucapnya.

Makin ke sana. keganjalan makin terasa. Setiap kali bertemu perawat, jawaban yang mereka dapati selalu berbeda. Setiap hari pasti jawaban membingungkan yang diterima. Sebagian perawat mengatakan mereka positif, sementara lain bilang belum positif.

“Makanya kami bingung. Kalau memang belum positif, kenapa diumumkan di media kalau kami ini positif sehingga keluarga kami pun menerima perlakuan kurang baik dari masyarakat,” semburnya kesal.

Lebih mengesalkan lagi perlakukan medis yang harus mereka jalani setiap harinya. Tidak seperti layaknya pasien yang mendapat asupan obat, mereka justru hanya diberikan vitamin tanpa pengobatan lain. “Dokter pun tidak pernah datang walau hanya sekedar jenguk, periksa atau beri motivasi,” ungkapnya.

Untuk makanan pun, kata Mas Bro, selama bulan puasa ini hanya diberi makanan untuk buka puasa dan sahur.

“Dua kali. Itupun porsinya sedikit. Bisa dibayangkan, satu hari menahan lapar, pas malam cuma makan waktu buka dan sahur. Benar-benar kami ini seperti tahanan kriminal. Kalau ikut emosi kita, pasti sudah loncat jendela lalu lari pulang,” sesalnya.

Untung saja, lanjut dia, sesama  pasien masih diizinkan berkumpul sehingga dapat mengusir kebosanan. Mereka berkumpul di satu ruang dan ngopi bersama serta saling curhat. Ada satu ruangan yang digunakan untuk yang mereka namakan Warkop.

“Jadi sebelum Ramadhan, biasa kumpul di situ untuk ngopi.  Sekarang kami gunakan untuk buka puasa bersama dan shalat berjama’ah. Ini sekarang kami kumpul. Kebetulan tamang ada dapa kirim pepaya jadi makang rame-rame. Ini kalo saya punya hape berkamera, saya videocall agar kalian bisa lihat,” terangnya.

Kegiatan lain yang sering mereka lakukan adalah olahraga yakni sepakbola. Dan bolanya dibuat sendiri pakai kertas dan lapangannya adalah ruangan tempat berkumpul itu.

“Kami tidak bisa keluar ruangan walaupun untuk sekedar berjemur. Makanya kami rutin main bola saja. Tapi bolanya pake kertas dan mainnya dalam ruangan ini,” ucapnya.

Sebelum menutup percakapan, Mas Bro sempat menitipkan pesan. “Terima kasih banyak ngoni so telpon saya kong bisa kas kaluar saya pe uneg-uneg. Sudah dulu e,” ujar Mas Bro sambil menutup telepon. (Sam)

Pos terkait