TERNATE — Haliyora, Sejumlah pedagang di Pasar Sabi-Sabi melakukan aksi protes pada Senin (13/1). Para pedagang mengamuk terkait penataan lokasi lapak. Mereka menilai penataan lokasi yang diatur lewat pembagian kunci kios/lapak secara diam-diam, tidak sesuai dengan perjanjian awal.
Bendahara Pasar Sabi-Sabi , Eliwisna mengatakan sesuai hasil rapat dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate, direncanakan bahwa pembagian kunci lapak dilakukan pada bulan Desember 2019. Pembagian kunci ternyata tertunda karena alasan yang kurang jelas.
Eliwisna mencurigai ada yang tidak beres terkait waktu pelaksanaan pembagian kunci lapak tersebut. Ia mensinyalir, pada saat pergantian Kepala Disperindag, tiba-tiba dilakukan pembagian kunci tanpa sepengetahuan pedagang. Hal itulah yang memicu timbulnya protes dari para pedagang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ada pedagang yang awalnya mendapat lokasi di belakang, namun mendadak pindah lokasi ke depan saat pembagian kunci. Makanya, kami marah dan protes. Kenapa ada yang ambil kunci lebih dulu? Ada permainan apa ini? Timbullah protes keras dari kami,” ujarnya dengan nada keras.
Menurutnya, sesuai kesepakatan bersama, bahwa sebelum dibangun Pasar Sabi-Sabi, pihak Pemerintah Kota Ternate memindahkan para pedagang dari lokasi pasar. Mereka dijanjikan akan lebih diutamakan penempatannya saat pasar sudah selesai dibangun.
“Saat itu, kami dijanjikan bahwa tidak akan ada orang luar atau pedagang baru yang masuk dan menempati lokasi pasar, karena pedagang yang menempati Pasar Sabi-Sabi adalah pedagang yang menjadi korban saat terjadi kebakaran di lokasi pasar rakyat yang bertempat di depan Benteng Oranye.
Kami adalah pedagang lama, yang jadi korban ketika kebakaran itu terjadi. Saat itu, Walikota Ternate masih Bapak Syamsir Andili. Beliau yang menyuruh kami untuk berjualan di lokasi pasar ini. Waktu itu, Beliau memberi sumbangan sebesar Rp. 90 juta untuk membuat lapak sementara bagi kami. Jadi, kami bangun lapak sementara dengan tiang dan atap seng. Selanjutnya, kami sendiri yang membagi petak-petak lapak pedagang,” cetusnya.
Eliwisna berharap, Pemerintah Kota Ternate lewat Disperindag dapat menerima keberatan para pedagang yang disampaikan lewat aksi protes tersebut.
“Kami akan melanjutkan aksi protes ini ke kantor Disperindag. Kami menuntut dilakukan pertemuan antara pemerintah dengan kami yang merupakan pedagang lama di lokasi ini. Kami harapkan ada solusi yang baik bagi kami, agar bisa berjualan dengan aman dan nyaman di lokasi Pasar Sabi-Sabi,” tutupnya. (rbk)









